Penjelasan Hadlratusy Syaikh KH. Hasyim Asy'ari tentang Maulid Nabi yang Disunnahkan Ulama

Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. telah menjadi kebiasaan umat Islam, salah satunya dalam dilingkungan warga Nahdlatul Ulama yang ada di Indonesia. Pendiri NU, Hadlratusy Syaikh KH. Hasyim Asyari dalam fatwanya menjelaskan mengenai rambu-rambu peringatan...

Taushiyah Maulid Nabi Saw Habib Jindan

Medan, Aswaja Center Klaten NU Online mengabarkan: Habib Jindan bin Novel bin Jindan dari Jakarta menyampaikan taushiyah Maulid Nabi dalam acara istighosah yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Utara. Habib menjelaskan...

Kedudukan Sahabat Nabi

Sahabat Nabi Saw sesuai dengan kedudukannya terbagi ke dalam dua kelompok, tapi tidak mengurangi statusnya sebagai sahabat.Sama-sama sahabat, tapi status keauliaannya berbeda-beda. Contoh, Khulafaur Rasyidin dan 'Asyarah al Kiram. Lalu, sahabat-sahabat yang...

Terjemah Kitab Al Umm

Kitab Al Umm adalah kitab terbaik yang menjadi pegangan hukum (fiqih) para penganut madzhab Syafi'i di Indonesia yang merupakan madzhab terbesar. Kitab ini mencakup pembahasan yang luas dalam bidang fiqih dan menjadi fase awal perkembangan ilmu hadits menjadi...

Dalil Kebolehan Menyelenggarakan Maulid Nabi Muhammad Saw

Pada bulan Rabiul Awwal ini kita menyaksikan di belahan dunia Islam, kaum Muslimin merayakan Maulid, Kelahiran Nabi Muhammad Saw dengan cara dan adat yang mungkin beraneka ragam dan berbeda-beda. Tetapi tetap pada satu tujuan, yaitu memperingati kelahiran...

Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Desember 2014

Kedudukan Sahabat Nabi

Sahabat Nabi Saw sesuai dengan kedudukannya terbagi ke dalam dua kelompok, tapi tidak mengurangi statusnya sebagai sahabat.Sama-sama sahabat, tapi status keauliaannya berbeda-beda. Contoh, Khulafaur Rasyidin dan 'Asyarah al Kiram. Lalu, sahabat-sahabat yang hanya bergaul secara lahir dengan Rasul Saw saja dan mendapat pengetahuan dari Rasul Saw.

Tapi yang perlu diketahui, mengapa maqamat sahabat kedudukannya sangat tinggi sekali, karena kadar imannya tidak bisa ditakar dengan takar iman kita semua. Kalau kita sekarang mengetahui Nabi, setelah kita membaca hadits Nabi Saw, atau kisah para sahabat, sedangkan kalau sahabat tidak, sahabat langsung bertemu dengan Rasulullah Saw. Para sahabat waktu itu memegang peranan penting sebagai al 'Ulama. Mereka semua adalah da'i ilallah, mengajak umat ke jalan Allah Swt. Tugas mereka masuk ke luar kampung dengan membawa nilai-nilai dan misi kerahmatan. Mereka tidak mengajarkan Islam dengan kekerasan. Rasulullah Saw tidak pernah mengajarkan kekerasan, tapi dakwah dengan santun.

Jadi itu di antara peranan sahabat. Para sahabat berbeda dengan auliya', walaupun para sahabat selain berstatus sebagai sahabat juga sebagai auliya'. Para sahabat termasuk auliya', juga termasuk ulama. Mengapa pada waktu sahabat aqthab-nya tidak dibuka sebagaimana zaman tabi'in, karamah-karamah dan sebagainya. Lebih banyak cerita-cerita karamahnya auliya' daripada karamah para sahabat? Sebab pada zaman Rasulullah, tidak perlu itu, karena keimanan mereka yang langsung diterima dari Rasulullah Saw, menjadi satu jaminan mutu bagi keimanan mereka yang tidak membutuhkan penguat lain.

Agak mendekati keimanan para sahabat adalah mereka golongan tabi'in yang hidup menjumpai sahabat. Jaminannya bagi keimanan mereka apa? Karena mereka langsung mengetahui sahabat. Walaupun mereka tidak bisa melihat Rasulullah Saw, mereka sudah bercermin terhadap para sahabat. Mereka menyadari kedudukan sahabat saja begitu hebat dan luar biasa, perilaku sahabat sudah begitu hebatnya, apalagi Rasulullah Saw, tidak bisa diukur. Maka tidak perlu ada karamah yang macam-macam, ini dan itu. Tapi setelah tabi'in perlu. Apa sebab? Sebab perlu adanya karamah, sebagaimana karamah Syaikh Abdul Qadir al Jailani, Imam Syadzili, Syaikh Ahmad al Badawi, Syaikh Ibrahim al Dasuki, Syaikh Baha'uddin Naqsyabandi, Syaikh Muhammad al Faqih al Muqaddam bin Ali, dan ulama-ulama lainnya yang selevel dengan mereka, adalah untuk mengangkat martabat umat dan menjadi syafa'at bagi orang awam. Al Karamat untuk menolong tabi'in dalam memperkuat keimanan orang-orang awam di zaman mereka. 

Contoh, kalau orang membaca kalam al Qur'an, ayat-ayat yang menceritakan bagaimana karamat Ashif bin Barkhiya, bagaimana cerita Luqman al Hakim, bagaimana cerita Ashhab al Kahfi, bagaimana cerita Nabi Khidir As, yang bisa menghidupkan orang mati, pada masa Nabi orang tidak heran dengan kisah-kisah yang ada dalam al Qur'an itu. Lain halnya ketika umat semakin jauh dari masa kenabian, bertanya-tanya tentang kebenaran kisah-kisah itu. Mereka bertanya-tanya apa benar kisah-kisah dalam al Qur'an itu, hanya fiktif ataukah legenda belaka. 
 
 Munculnya karamat-karamat di tengah-tengah ulama besar, seperti Syaikh Abdul Qadir al Jailani untuk mengangkat kepercayaan mereka supaya lebih tebal terhadap mukjizat Rasulullah Saw, atau apa yang disebutkan dalam al Qur'an. Maka lahirlah karamah-karamah itu, seperti Syaikh Abdul Qadir al Jailani bisa menghidupkan orang mati dengan karamatnya. Akhirnya orang-orang awam akan berkata apa? Mukjizat Nabi Isa As benar. Syaikh Abdul Qadir al Jailani saja bisa, apalagi Nabi Isa As. Orang awam akan semakin tebal, kuat, semakin percaya, seperti di zaman auliya' yang sekarang, zaman Habib Syaikh bin Ahmad Bafaqih, dan beberapa ulama besar di Hadhramaut. Seperti Habib Abu Bakar bin Abdullah bin Thalib al Aththas dan tokoh-tokoh lainnya seperti Habib Umar bin Thaha Indramayu itu disebut sebagai khatim al auliya', penutup para wali. Karena apa disebut khatim al auliya'? Karena Habib Umar bin Thaha melahirkan para ulama dan hidup pada tahun-tahun terakhir abad itu (Abad ke-18).

Tujuan dari karamah-karamah para ulama yang saya sebut terakhir itu untuk menunjukkan mukjizat-mukjizatnya para anbiya' yang terdahulu dan menunjukkan karamat-karamatnya Syaikh Abdul Qadir al Jailani yang terkemudian dari masa kenabian. Seandainya ada orang yang tidak percaya dengan karamatnya Syaikh Abdul Qadir al Jailani, dia mengatakan untuk jangan berlebih-lebihan terhadap Syaikh Abdul Qadir al Jailani, sebab itu bisa dijadikan kultus. Akhirnya dijawab oleh para wali-wali yang sekarang. Wali-wali yang sekarang pun bisa mendapat karamat dari Allah Ta'ala dengan menghidupan orang mati. Orang yang tadi menyepelekan Syaikh Abdul Qadir al Jailani mengakui: ah, benar. Ternyata wali zaman sekarang saja mempunya karamat seperti itu, berarti Syaikh Abdul Qadir al Jailani benar. Kalau Syaikh Abdul Qadir al Jailani benar, berarti al Qur'an benar. Akhirnya karamat-karamat itu membawa, menolong, dan menguatkan keyakinan orang awam. Dan keyakinan orang awam dan kepercayaannya terhadap al Qur'an dan apa yang terkandung di dalamnya akan menjadi lebih tebal.


Minggu, 28 Desember 2014

Penjelasan Hadlratusy Syaikh KH. Hasyim Asy'ari tentang Maulid Nabi yang Disunnahkan Ulama


Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. telah menjadi kebiasaan umat Islam, salah satunya dalam dilingkungan warga Nahdlatul Ulama yang ada di Indonesia. Pendiri NU, Hadlratusy Syaikh KH. Hasyim Asyari dalam fatwanya menjelaskan mengenai rambu-rambu peringatan Maulid Nabi yang disunnahkan oleh para Imam (ulama).

Berikut penjelasan Hadlratusy Syekh KH. Hasyim Asya'ari dalam Attanbihaatul Waajibaat Liman Yashna’ul Maulida Bil Munkaraat halaman 10-11 :

اَلتَّنْبِيْهُ الْأَوَّلُ
يُؤْخَذُ مِنْ كَلَامِ الْعُلَمَاءِ الْآتِيْ ذِكْرُهُ أَنَّ الْمَوْلِدَ الَّذِيْ يَسْتَحِبُّهُ الْأَئِمَّةُ هُوَ اِجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ وَرِوَايَةِ الْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِيْ مَبْدَإِ أَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا وَقَعَ فِيْ حَمْلِهِ وَمَوْلِدِهِ مِنَ الْإِرْهَاصَاتِ وَمَا بَعْدَهُ مِنْ سِيَرِهِ الْمُبَارَكَاتِ ثُمَّ يُوْضَعُ لَهُمْ طَعَامٌ يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْنَ وَإِنْ زَادُوْا عَلَى ذَلِكَ ضَرْبَ الدُّفُوْفِ مَعَ مُرَاعَاةِ الْأَدَبِ فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ

Peringatan yang Pertama:

Perkara yang diambil dari perkataan para ulama yang akan diterangkan mendatang bahwasanya MAULID yang disunnahkan oleh para imam itu adalah berkumpulnya orang-orang, pembacaan ayat yang mudah dari Al-Qur’an, riwayat hadits-hadits tentang permulaan perihal Nabi serta IRHASH (kejadian yang istimewa sebelum menjadi beliau diangkat menjadi Nabi) yang terjadi saat kehamilannya dan hari lahirnya dan hal-hal yang terjadi sesudahnya yang merupakan sirah (sejarah) beliau yang penuh keberkahan.

Kemudian disajikan beberapa hidangan untuk mereka. Mereka menyantapnya, dan selanjutnya mereka bubar. Jika mereka menambahkan atas perkara diatas dengan memukul rebana dengan menjaga adab, maka hal itu tidak apa-apa.

K.H. Abdullah Afif

Kiai Abdurrahman Mranggen: Pendiri Pesantren dan Pemimpin Tarekat


KH. Abdurrahman dilahirkan dan dibesarkan di kampung Suburan Desa Mranggen Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak pada tahun 1872 M. Beliau adalah putra dari seorang guru ngaji yang shalih yaitu KH. Qashidil Haq bin Abdullah Muhajir. Selain mengajar, sang ayah juga giat berkebun dan menyewakan sebagian rumahnya untuk penginapan para pedagang luar kota. 

Sejak kecil KH. Abdurrahman dididik oleh ayahnya sendiri. Setelah beranjak dewasa, barulah beliau belajar di Pondok Pesantren di daerah Tayem Purwodadi Jawa Tengah. Kemudian beliau juga pernah belajar di pesantren yang berada di seberang sungai Brantas JawaTimur. Kemudian terakhir beliau belajar di Pondok Pesantren Sapen Penggaron Semarang (dulu ikut Kabupaten Demak) yang diasuh KH. Abu Mi’raj yang akhirnya beliau diambil menjadi menantunya.

Karena minat belajarnya yang tinggi, setelah menetap di rumah selain mengajar beliau juga belajar kepada beberapa guru, diantaranya kepada Syekh KH Sholeh Darat, seorang ulama kenamaan dari Semarang Barat. Beliau juga belajar kepada KH. Ibrahim Brumbung Mranggen, dari sinilah beliau mendalami ilmu thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyyah.

Syekh KH Ibrahim kemudian berkenan mewisuda beliau menjadi khalifah setelah lulus ujian, yaitu pada suatu hari KH. Ibrahim berkata kepada murid-muridnya: “Barangsiapa yang nanti tidak batal shalatnya maka dialah yang berhak menyandang kholifah.”

Awal kisahnya bermula saat di tengah-tengah shalat jamaah berlangsung terlihatlah seekor ular yang merayap dari arah KH. Ibrahim menuju para jamaah. Tentu saja hal ini membuat para makmum ketakutan lari tunggang langgang dan membatalkan shalatnya, kecuali KH. Aburrahman yang masih tetap khusyu’ meneruskan shalatnya. Maka dengan demikian beliau dinyatakan berhak untuk menyandang khalifah thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandliyah.

Beliau adalah profil seorang yang konsekuen dan berdedikasi tinggi. Beliau menyadari sebagai seorang yang berilmu, tentu mempunyai kewajiban tugas dan tanggung jawab yang tinggi untuk senantiasa mengamalkan ilmu-ilmu yang dikuasai demi pengabdian kepada Allah dan RasulNya, Agama, Nusa dan Bangsa. Oleh karena itu, beliau dalam keseharian selalu melayani dan berkhidmah kepada masyarakat, santri dan keluarganya demi menggapai ridha Allah Swt.

Dalam hal duniawiyah, beliau juga mempunyai kewajiban untuk memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya. Oleh karena itu beliau tidak segan-segan dan tidak malu untuk berdagang walau dalam skala yang kecil. Tentu sebagai seorang tokoh agama dan berilmu tinggi, dalam berdagang pun beliau selalu amanah, dapat dipercaya dan yang paling disukai oleh pelanggannya. Beliau tidak pernah mengambil untung banyak.

Dengan bertambah banyaknya para pelanggan yang berbelanja kebutuhan kepada beliau, tidak membuatnya lupa dari tugas dan kewajibannya. Beliau tidak pernah berangkat jualan sebelum mengerjakan amalan rutinnya, yaitu shalat Dhuha. Sekalipun di pasar sudah ditunggu para pelanggannya, beliau tetap istiqamah terhadap ibadah dan amalan rutinitasnya.

Dari kepribadian beliau inilah masyarakat mulai simpati dan tertarik kepada beliau sehingga ada diantara mereka yang ikut nengaji dan sebagiannya menitipkan putranya kepada beliau. Hanya saja pada saat itu yang nyantri kepada beliau semuanya masih menjadi santri kalong, artinya pada malam hari mereka mengaji dan pagi harinya mereka pulang untuk bekerja atau membantu orang tua.

Beliau juga dikenal sebagai seorang yang luwes dalam setiap pergaulan. Sehingga nampak sifat beliau apabila bergaul dengan kiai akan nampak kekiaiannya, bergaul dengan bangsawan akan nampak kebangsawanannya.

KH. Abdurrahman sempat beristri dengan Ibu Nyai Suripah, ipar dari KH. Ibrahim Brumbung Mranggen, dan dikaruniai empat orang putra namun kesemuanya dipanggil Allah Swt. sewaktu masih usia kecil (setelah Ibu Nyai Suripah wafat).

Kemudian beliau menikah lagi dengan Hj. Shafiyyah (nama kecilnya Fatimah) binti KH. Abu Mi’raj bin Kiai Syamsudin Penggaron Semarang. Pernikahannya kali ini beliau dikaruniani sebelas putra dan putri, yaitu:

1. Hafshah (lahir di kapal dalam perjalanannya menuju ke tanah suci dan meninggal di Jakarta dalam perjalanannya pulang ke tanah air)
2. KH. Utsman (wafat tahun 1967 M)
3. Bashirah (wafat sewaktu kecil)
4. KH. Muslih (wafat tahun 1981 M)
5. KH. Muradi (wafat tahun 1980 M)
6. Rahmah (wafat sewaktu kecil)
7. KH. Fathan (wafat tahun 1945 M)
8. KH. Ahmad Muthohar (wafat tahun 2005 M)
9. Hj. Rahmah Muniri (almarhumah)
10. Faqih (wafat sewaktu kecil)
11. Tasbihah Muhri

Tiada jalan yang tak berujung, tiada awal yang tak berakhir. Demikian pula halnya dengan KH. Abdurrahman, setelah menekuni jalan kehidupannya dengan penuh pengabdian, menyebarkan syariat agama Islam dan setelah mengenyam pahit getirnya kehidupan ini mulai dari seorang santri sampai menjadi pemimpin dan tokoh masyarakat yang disegani, beliau berpulang ke Rahmatullah pada tanggal 20 Dzulhijjah 1360 H/1941 M dalam usia 70 tahun. Dan tanggal wafat beliau ini, setiap tahun diperingati haul keluarga yang dihadiri ribuan murid-murid beliau dengan tujuan berharap berkah dari beliau dan mengingat kembali perjuangan beliau semasa hidup. Pesan beliau pada keluarganya juga murid-muridnya yang akan selalu tetap diingat agar selalu belajar dan atau mengajar.

Abdus Shomad-Ahmad Dliya’uddin
Pondok Pesantren Futuhiyyah Suburan Mranggen Demak